Monday, June 25, 2012

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Sumedang Menurut Lapangan Usaha

Filled under: , ,


PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
(PDRB) KABUPATEN SUMEDANG
MENURUT LAPANGAN USAHA

















TAHUN 2005 – 2009

















Kerjasama :

BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN SUMEDANG
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
KABUPATEN SUMEDANG
TAHUN 2010





DAFTAR ISI                                                                               Halaman
DAFTAR ISI  ……………………………….......……………...........          i

BAB I TINJAUAN UMUM
1.1.          Latar Belakang ……..……….………………...............           1
1.2.          Manfaat  Statistik  Pendapatan  Regional/PDRB......         2

BAB II METODOLOGI
2.1.          Pengertian  Produk  Domestik  Regional  Bruto  .......          4
2.2.          Beberapa Pendekatan Penyusunan PDRB..............            4
2.2.1.       Pendekatan Produksi  ……..….…….........................              4
2.2.2.       Pendekatan Pendapatan  .………….........................              4
2.2.3.       Pendekatan Pengeluaran ….……….........................              5
2.3.          Pendapatan Regional …………………………..........             5

BAB VI PENUTUP..........................................................................       6

LAMPIRAN.......................................................................................        7-8




i
BAB I
TINJAUAN UMUM

1.1.    Latar Belakang

Ditengah masih melesunya perekonomian dunia akibat badai krisis financial yang menghantam ekonomi dunia sejak akhir tahun 2008 hingga pertengahan tahun 2009, Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara dikawasan Asia Pasifik yang mampu bertahan dari hantaman badai krisis tersebut. Kala hampir seluruh negara di Asia mencatat pertumbuhan ekonomi negatif akibat krisis global, China, India dan Indonesia justru mencatat pertumbuhan ekonomi yang positif, serta memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan.
Meskipun prospek perekonomian negara maju masih suram, secara keseluruhan perekonomian Indonesia tahun 2009 bergerak lepas dari berbagai permasalahan ekonomi dunia dan mencatat pertumbuhan ekonomi 4,5 persen. Angka tersebut cukup meyakinkan ditengah melesunya perekonomian global.
Sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi nasional, pada tahun 2009 Propinsi Jawa Barat yang merupakan salah satu kontributor utama terhadap perekonomian nasional pun mengalami pertumbuhan positif.Pada tahun 2009 perekonomian  Jawa Barat tumbuh 4,29 persen, sedikit melambat bila dibandingkamn dengan tahun sebelumnya yang mencapai 5,83 persen.
Demikian pula dengan Kabupaten Sumedang yangmerupakan salah satu daerah yang cukup memberikan kontribusi terhadapperekonomian JawaBarat.   Pada   tahun 2009 perekonomian KabupatenSumedang tumbuh 4,76 persen.
Pertumbuhan yang cukup tinggi bila dibandingkan tahunsebelumnya yang mencapai 4,58 persen dan melebihi pertumbuhan ekonomi yang dicapai Jawa Barat maupun nasional. Trend laju pertumbuhan ekonomi Sumedang cenderung menunjukan peningkatan yang positif dari tahun ketahun. Peningkatan tersebut merupakan hasil kerjasama yang terus dibangun


1


oleh berbagai stakeholder daerah terbaik dalam kerangka kelembagaan politik maupun peran aktif dunua swasta dan masyarakat secara langsung.
Disamping itu, dalam rangka meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi yang merupakan salah satu sasaran pembangunan daerah diperlukan keterpaduan gerak langkah pembangunan dari berbagai pihak secara sinergis, kondusif dan berkelanjutan. Meskipun demikian, dalam setiap proses pembangunanmasih terbentur oleh berbagai macam kendala yang perludiantisipasi. Untuk mengantisipasi kendala  kendala tersebut dan gunamendukung visi dan misi Kabupaten Sumedang diperlukan data daninformasi statistik yang akurat dan berkesinambungan.
Data dan informasi ini, khususnya data ekonomi makro dapat dijadikansebagai salah satu bahan evaluasi hasil pembangunan yang telah dicapai dan perencanaan dimasa yang akan datang.
Untuk mengukur sejauh mana keberhasilan kinerja perekonomian regional,maka dibuat indikator makro yang biasa digunakan            sebagai         penilaian kinerja perekonomian.            Indikator tersebut diantaranya adalahProduk Domestik Regional Bruto (PDRB).  PDRB ini dapat menggambarkanpertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu tertentu, dapat menggambarkanstruktur ekonominya dan dapat menggambarkan analisisnya terhadapkinerja sektor perekonomian.
1.2.  Manfaat Statistik Pendapatan Regional/PDRB
PDRB sebagai indikator ekonomi makro dapat dimanfaatkan sebagai :
1. PDRB atas dasar harga berlaku nominal menunjukkankemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatuwilayah.  Nilai  PDRB  yang  besar  menunjukkan  kemampuan sumber daya ekonomi yang besar. 
2. PDRB atas dasar harga berlaku menunjukkan pendapatanyang memungkinkan dapat dinikmati oleh penduduk suatudaerah.
3. PDRB atas dasar harga konstan (riil) dapat digunakan untukmenunjukkan laju pertumbuhan ekonomi (LPE) secarakeseluruhan maupun sektoral dari tahun ke tahun.


2


4. Distribusi PDRB atas dasar harga berlaku menurut sektormenunjukkan struktur perekonomian yang menggambarkanperanan sektor ekonomi dalam suatu wilayah. Sektor  sektorekonomi yang mempunyai peran yang besar menunjukkan basisperekonomian yang mendominasi perekonomianwilayah tersebut.
5. PDRB per kapita atas dasar harga berlaku menunjukkan nilaiPDRB per satu orang penduduk (pendapatan per kapita).


3
BAB II
METODOLOGI


2.1. Pengertian Produk Domestik  Regional Bruto
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)   merupakan jumlah nilai produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi didalam suatu wilayah atau daerah pada suatu periode tertentu, biasanya satu tahun, tanpa memperhitungkan kepemilikan.
2.2. Beberapa Pendekatan Penyusunan PDRB
Pendekatan penyusunan PDRB atas dasar harga berlaku dapat dihitungmelalui dua metode yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Yangdimaksud metode langsung adalah metode penghitungan denganmenggunakan data yang bersumber dari data dasar masing masing daerah.Metode langsung tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan 3 macampendekatan yaitu:
·         pendekatan produksi (Production Approach),
·         pendekatan pendapatan (Income Approach), dan
·         pendekatan pengeluaran (Expenditure Approach). Metode tidak langsungadalah metode penghitungan dengan cara alokasi yaitu mengalokir PDRBpropinsi ke kabupaten / kota dengan memakai berbagai macam indikatorproduksi atau indikator lainnya yang cocok sebagai alokator.
2.2.1.   Pendekatan Produksi
Pendekatan dari segi produksi adalah menghitung nilai tambah dengan caramengurangkan biaya antara dari masing - masing nilai produksi bruto tiap –tiap sektor atau subsektor.
2.2.2.  Pendekatan Pendapatan
Dalam pendekatan pendapatan, nilai tambah dari setiap kegiatan ekonomidihitung dengan jalan menjumlahkan semua balas jasa faktor produksi yaituupah dan gaji, surplus usaha, penyusutan dan pajak tak langsung neto.Untuk sektor pemerintahan   dan   usaha-usaha   yang   sifatnya   tidak   mencari untung, surplus usaha tidakdiperhitungkan. Yang termasuk dalam surplus usaha disini adalah bunga,sewa tanah dan keuntungan kotor.
4

2.2.3.  Pendekatan Pengeluaran
Pendekatan dari segi pengeluaran bertitik tolak pada penggunaan akhir daribarang dan jasa di dalam suatu wilayah. Jadi produk domestik regional brutodiperoleh dengan cara menghitung berbagai komponen pengeluaran akhiryang membentuk produk domestik regional tersebut. Secara umumpendekatan pengeluaran dapat dilakukan dengan berbagai carasebagai berikut:
  a. Melalui pendekatan penawaran yang terdiri dari metodearus barang, metode penjualaneceran dan metode penilaian eceran b.  Melaluipendekatan permintaan yang terdiri dari pendekatansurvei pendapatan & pengeluaran rumah tangga, metodedata anggaran belanja, metode balance sheet  dan metodestatistik luar negeri pada prinsipnya kedua cara inidimaksudkan untuk memperkirakan komponen komponen permintaan akhir seperti konsumsi rumahtangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetapbruto dan perdagangan antar wilayah (termasukekspor dan impor antar negara).

2.3.     Pendapatan Regional
Istilah Pendapatan Regional merupakan sebutan yang lebih populer dalampublikasi PDRB. Namun dalam kenyataannya, pendapatan regional sulituntuk dihitung mengingat sukarnya mendeteksi arus pendapatan yangmengalir antar regional / propinsi. Oleh karena keterbatasan tersebut, makayang sering atau umum dipakai adalah Produk Domestik Regional Netto(PDRN). PDRN Atas Biaya Faktor Produksi merupakan PDRB setelahdikeluarkan biaya penyusutan barang-barang modal karena aus akibatdigunakan dalam proses produksi, dan pajak tidak langsung netto (pajaksetelah dikurangi subsidi pemerintah).




5



BAB VI
PENUTUP


Dari uraian hasil pembahasan, maka diperoleh beberapa kesimpulan :
1.   PDRB atas dasar harga berlaku Kabupaten Sumedang  mengalamikenaikan 8,61 persen yaitu dari Rp. 10.300,94 milyar tahun 2008menjadi Rp. 11.188,17 milyar tahun 2009.
2.  Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Kabupaten Sumedang tahun2009 mencapai 4,76 persen.

3.   Kabupaten Sumedang merupakan wilayah dengan strukturpertanian karena masih merupakan daerah dengan sektorpertanian sebagai penyumbang terbesar dalam perekonomianKabupaten Sumedang. Perkembangan struktur ekonomi tersebutcukup stabil dari tahun ke tahun.

4.   Pendapatan per kapita meningkat dari Rp. 9.537.953,83 tahun 2008menjadi Rp. 10.238.008,66 tahun 2009 atau naik 7,34 persen.

5.   Indeks implisit meningkat dari 200,53 tahun 2008 menjadi 207,90tahun 2009 sehingga diperoleh laju inflasi PDRB 3,68 persen padatahun 2009.




 6


LAMPIRAN
INDEKS IMPLISIT PDRB KABUPATEN SUMEDANG MENURUT LAPANGAN
USAHA TAHUN 2005   2009
( PERSEN )

LAPANGAN USAHA                 2005             2006             2007           2008*           2009**
(1)                                                                                                       (2)                     (3)                (4)                (5)                     (6)

PERTANIAN                               162,09            183,23          197,62       216,60             224,70
                                                    
      1.1  Tanaman Bhn Makanan           166,04             190,09             206,25        221,18              229,08
      1.2  Perkebunan                         148,80             158,64             169,36        190,80              197,94
      1.3  Peternakan                          147,99             162,52             170,69        204,55              213,55
      1.4  Kehutanan                           150,14             161,16             173,53        194,17              197,39
      1.5  Perikanan                            175,63             199,20             214,88        257,25              267,65
PERTAMBANGAN DAN
PENGGALIAN                            177,73             201,31           217,33      235,08             240,86
2.1  Minyak dan Gas Bumi             -                    -                    -                -                            -
2.2  Prtmbngan tnp Migas              -                    -                    -                -                            -
2.3  Penggalian                           177,73             201,31             217,33        235,08              240,86
INDUSTRI PENGOLAHAN         143,80             157,02           68,42      181,74             189,55
3.1  Industri Migas                            -                    -                    -                -                       -
3.2  Industri Tanpa Migas              143,80             157,02            168,42        181,74              189,55
LISTRIK, GAS & AIR
BERSIH                                        169,76          188,74             197,84      207,62             210,26
      4.1  Listrik                                  171,35             190,58             199,39        209,25              211,98
      4.2  Gas Kota                                   -                    -                    -             -                         -
      4.3  Air Bersih                              122,30             130,07            137,45        142,34              142,44
BANGUNAN/KONTRUKSI            143,32          153,85            158,79      170,83             174,79
PERDAGANGAN, HOTEL
DAN RESTORAN                           155,87          168,21            177,80      194,50             201,90
      6.1  Perdagangan Besar & Eceran    159,12             172,17             182,42        199,05              206,37
      6.2  Hotel                                     183,69             194,88             200,40        215,72              220,09
      6.3  Restoran                                142,08             151,86             159,06        176,56              184,67





7




LAPANGAN USAHA                         2005                    2006                    2007                2008*            2009**
            (1)                                            (2)                         (3)                        (4)                    (5)                  (6)

PENGANGKUTAN DAN
KOMUNIKASI                                  183,06                   201,80                   213,78               240,55             243,55
7.1  Pengangkutan                                  185,09                   205,01                  216,75               246,02             249,55
7.1.1  Angkutan Rel                                  -                          -                          -                       -                    -
7.1.2  Angkutan Jalan
Raya                                                186,50                    206,95                   218,78                248,68           252,13
7.1.3  Angkutan laut                                  -                          -                            -                     -                   -
7.1.4  Angkutan Sungai &
Penyebrangan                                          -                         -                           -                       -                  -
7.1.5  Angkutan Udara                                -                         -                               -                        -                  -
7.1.6  Jasa Penunjang
Angkutan                                             155,27                163,25                     172,06             187,52           192,19
7.2   Komunikasi                                    171,44                184,24                    198,26             213,95           215,81
KEUANGAN, PERSEWAAN
DAN JASA PERUSAHAAN                        168,31                179,58                     189,62             204,12           212,96
8.1  Bank                                             284,10                313,06                    327,28             357,36           365,98
8.2  Lembaga Keuangan
Lainnya                                               146,35                169,09                    173,31             184,44           192,68
8.3  Sewa Bangunan                                130,63                134,63                    142,85             149,20           155,74
8.4  Jasa perusahaan                                 138,95               154,68                   164,11             174,47           179,25
JASA  JASA                                       160,86               175,85                    195,05               214,36             221,43
9.1  Pemerintahan Umum                          169,18                189,22                    213,20               234,97             242,17
9.2  Swasta                                           143,42                147,59                    157,17               171,74             179,16
9.2.1  Jasa Sosial
Kemasyarakatan                                     144,81                 148,56                    157,06              179,89           188,34
9.2.2  Jasa Hiburan dan
Rekreasi                                                136,73                 139,82                  150,35                157,34           164,43
9.2.3  Jasa Perseorangan
dan Rumahtangga                                      142,63                 147,53                   157,05              163,53           169,66
PDRB                                                   156,41                 171,84                   183,93              200,53            207,90
*) Angka Perbaikan
**) Angka Sementara






Posted By Dhietcorner8:22:00 PM

Saturday, June 9, 2012

Sekilas Tentang Jurusan Sistem Informasi

Filled under: , ,


Sistem Informasi (atau ada di beberapa perguruan tinggi yang mengenalnya sebagai jurusan Manajemen Informatika, dsb) lebih mengarah ke penerapan komputer untuk dunia business dan manajemen. Kalau dibandingkan dengan Sistem komputer, dia lebih mengarah ke belajar perangkat keras (hardware) komputer yang menurut saya lebih mirip-mirip ke jurusan elektro digital, sedangkan Sistem Informasi yang kadang-kadang ilmunya mendekati bidang ekonomi. Namun kalau kita menggeluti bidang hardware dan arsitektur komputer, program studi teknik komputer bisa menjadi pilihan. Sebenarnya ada jurusan lain yang juga mengarah ke rumpun komputer seperti Komputer akuntansi, komputer perbankan, dsb. Namun, saya pikir itu versi lain dari jurusan Sistem Informasi yang lebih yang lebih dikonsentrasikan ke penerapan lebih khusus.


     Untuk gambaran tentang bidang sistem informasi, bidang ini menitikberatkan pada pembuatan sebuah sistem informasi yang dapat memudahkan pengguna sekaligus mampu meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan kinerja pengguna pada tingkatan secara individual dan perusahaan pada tingkat yang lebih tinggi lagi. Sistem informasi yang berbasis komputer mempunyai tugas menggantikan pekerjaan yang bila kita lakukan secara manual akan membutuhkan waktu lama atau justru cenderung mempunyai tingkat kesalahan cukup tinggi. Sistem informasi juga digunakan untuk menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang biasanya masih berbasis pena dan kertas agar dapat menghemat tempat penyimpanan apalagi biaya yang akan dikeluarkan, yang biasanya menjadi masalah utama, sehingga menjadi seminim mungkin. Orang yang ahli dalam sistem informasi disebut sistem analisis.

     Kalau dikatakan output-nya bakal sempit, hal itu justru salah. Sistem Informasi memberikan peluang luas terhadap dunia nyata dan bisnis, prospeknya bagus, perannya sangat strategis dan terus meningkat, pasarnya ada, dari segi keilmuan juga bagus karena menitik beratkan pada aplikasi Teknologi Infomasi untuk membantu masyarakat dan organisasi/perusahaan mencapai sasarannya. Orang-orangnya pun berfikir analitis. Dari situ sangat jelas pentingnya Sistem Informasi.

Secara khusus dan praktis, sesuai dengan materi keilmuan yang dipelajari, seorang sarjana Sistem informasi harus memiliki kapabilitas untuk :
  1. Mendefinisikan dan menganalisa kebutuhan sistem informasi dari sebuah organisasi   secara komprehensif, detail, dan menyeluruh yang tidak terlepas dari strategi organisasi yang bersangkutan
  2. Mendefinisikan, menganalisa dan mengembangkan sistem informasi guna memperkaya teori, metode dan paradigma yang telah ada
  3. Merencanakan proyek-proyek pengembangan sistem informasi dari sebuah organisasi maupun komunitas tsb di atas berdasarkan kaidah-kaidah manajemen proyek yang berlaku
  4. Merancang sistem informasi yang terdiri dari berbagai komponen yang saling terkait satu dan lainnya
  5. Merencanakan dan memonitor proyek-proyek konstruksi teknologi informasi sebagai komponen utama sistem informasi, seperti : implementasi paket aplikasi, pengembangan perangkat lunak,instalasi infrastruktur jaringan, dsb
  6. Mengimplementasikan sistem informasi secara efisien dan efektif di dalam sebuah organisasi atau tatanan komunitas lainnya sehingga mendukung tercapainya visi dan misi organisasi yang bersangkutan
  7. Mengelola manajemen pemeliharaan sistem informasi yang telah diimplementasikan dalam sebuah perusahaan atau organisasi

Prospek lulusan Jurusan Sistem Informasi
  1. Database dan e-Business
  2. System Analyst
  3. Programmer Analyst
  4. Information System Specialist pada bidang kerja Sistem Informasi Korporasi
  5. System Support
  6. System Design
  7. Database Administrator
  8. Information Technologi / System Information Consultant
  9. Web Developer
  10. Web Designer
  11. Enterpreneur in IT Business
  12. IS Auditor dan
  13. IS Project Manager



Sumber : click here

Posted By Dhietcorner7:54:00 PM

Monday, April 23, 2012

Memahami White Balance dalam Fotografi


BelajarFotografi | Setiap pemilik kamera digital atau handphone kelas menengah yang dilengkapi kamera, paling tidak pernah menemui istilah white balance. Jadi apa itu white balance? Kenapa harus peduli?
Oke mari kita bahas dengan cara yang gampang dan aplikatif.
White balance adalah aspek penting dalam dunia fotografi dan berpengaruh pada hasil akhir foto. Alasan kenapa kita perlu memahami white balance adalah karena kita ingin warna foto kita seakurat mungkin. Jadi, white balance berpengaruh terhadap warna foto.
Agar lebih jelas silahkan lihat contoh foto dibawah ini:
Ketiga foto diatas adalah foto yang identik, bahkan ketiganya berasal hanya dari satu foto. Saya hanya mengubah setting white balance-nya dan hasilnya: ketiganya sangat berbeda warnanya. Foto A tampak sangat kebiruan, foto B terlihat cukup normal dan foto C terlihat kekuning-kuningan.
Perhatikan warna cahaya lampu neon dan lampu bohlam, beda bukan? itu karena masing-masing neon dan bohlam memiliki ”temperatur warna“ yang berbeda. Cahaya yang kekuningan (bohlam) disebut hangat sementara cahaya yang kebiruan (neon) disebut dingin.
Alasan kenapa kamera memerlukan setting white balance adalah karena kita memotret dalam kondisi pencahayaan yang berubah-rubah. Mata telanjang kita adalah alat yang super canggih dan mampu beradaptasi (menyeimbangkan) terhadap perubahan warna cahaya, jadi kertas putih dimanapun akan tampak putih bagi kita. Namun kamera tidaklah secanggih mata, karena itu kertas putih belum tentu terlihat putih bagi kamera dalam warna pencahayaan yang berbeda.
Jadi tujuan setting white balance adalah memerintahkan kamera agar mengenali temperatur sumber cahaya yang ada. Supaya yang putih terlihat putih, merah terlihat merah dan hijau terlihat hijau, atau dengan kata lain agar kamera merekam warna obyek secara akurat dalam kondisi pencahaayan apapun.
Bagaimana Cara Setting White Balance?
Setiap kamera memiliki cara setting yang berbeda, oleh karena itu anda harus merujuk pada buku manual jika memang sejauh ini belum menemukan caranya. Anda bisa mencari buku manual kamera disini. Kalau anda masih bingung, gunakan mode auto white balance. Kamera mungkin tidak selalu benar namun paling tidak lebih banyak benar.
Preset
Anda juga bisa menggunakan preset jika memang tersedia di kamera anda:
  • Auto – kamera akan menebak temperatur warna berdasar program yang ditanam dari sononya oleh pembuat kamera. Anda bisa menggunakannya pada kebanyakan situasi, namun tidak disetiap situasi (misal: memotret saat sunset/sunrise)
  • Tungsten – disimbolkan dengan ikon bohlam. Karena itu cocok digunakan saat anda memotret di ruangan dengan sumber cahaya bohlam.
  • Fluorescent – disimbolkan dengan ikon lampu neon, gunakan saat memotret di ruangan dengan pencahayaan lampu neon.
  • Daylight – biasanya dengan simbol matahari, gunakan saat berada di bawah sinar matahari
  • Cloudy – disimbolkan dengan awan, gunakan saat memotret di cuaca mendung
  • Flash – simbolnya kilat, jika anda menggunakan lampu flash (strobe) gunakan preset ini.
  • Shade – biasanya simbolnya rumah atau pohon, gunakan saat memotret dalam rumah (siang hari) atau anda berada di daerah bayangan – bukan sinar matahri langsung.
Cara Setting White Balance Secara Manual
Beberapa kamera, terutama SLR dan prosumer, menyediakan fasilitas setting white balance manual. Setting manual adalah cara paling akurat jika kita bingung dengan temperatur warna sumber cahaya kita. Ini biasanya terjadi dalam pemotretan dengan sumber pencahayaan yang lebih kompleks (lebih dari satu jenis temperatur warna).
Kita bisa memanfaatkan kertas putih untuk tujuan ini. Set white balace mode di custom atau manual, kemudian arahkan kamera supaya membidik kertas ini kemudian jepret. Kamera akan mendeteksi warna putih dan menyimpan temperaturnya, akan muncul konfirmasi di layar LCD kamera kalau setting sudah OK.
Cara yang lebih mudah dan akurat adalah dengan menggunakan aksesoris tambahan yang bernama expodisc atau kenko, harganya berkisar dari Rp. 800 ribu s/d Rp. 1,5 Juta. Anda bisa membeli-nya di toko-toko kamera besar di Jakarta dan Surabaya.

Posted By Dhietcorner8:46:00 PM

Memahami Shutter Speed dalam Fotografi


BelajarFotografi | Secara definisi, shutter speed adalah rentang waktu saat shutter di kamera anda terbuka. Secara lebih mudah, shutter speed berarti waktu dimana sensor kita ‘melihat’ subyek yang akan kita foto. Gampangnya shutter speed adalah waktu antara kita memencet tombol shutter di kamera sampai tombol ini kembali ke posisi semula.
Supaya mudah, kita terjemahkan konsep ini dalam beberapa penggunaannya di kamera:
  • Setting shutter speed sebesar 500 dalam kamera anda berarti rentang waktu sebanyak 1/500 (seperlimaratus) detik. Ya, sesingkat dan sekilat itu. Sementara untuk waktu eksposur sebanyak 30 detik, anda akan melihat tulisan seperti ini: 30’’
  • Setting shutter speed di kamera anda biasanya dalam kelipatan 2, jadi kita akan melihat deretan seperti ini: 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/30 dst. Kini hampir semua kamera juga mengijinkan setting 1/3 stop, jadi kurang lebih pergerakan shutter speed yang lebih rapat; 1/500, 1/400, 1/320, 1/250, 1/200, 1/160 … dst.
  • Untuk menghasilkan foto yang tajam, gunakan shutter speed yang aman. Aturan aman dalam kebanyakan kondisi adalah setting shutter speed 1/60 atau lebih cepat, sehingga foto yang dihasilkan akan tajam dan aman dari hasil foto yang berbayang (blur/ tidak fokus). Kita bisa mengakali batas aman ini dengan tripod atau menggunakan fitur Image Stabilization (dibahas dalam posting mendatang)
  • Batas shutter speed yang aman lainnya adalah: shutter speed kita harus lebih besar dari panjang lensa kita. Jadi kalau kita memakai lensa 50mm, gunakan shutter minimal 1/60 detik. Jika kita memakai lensa 17mm, gunakan shutter speed 1/30 det.
  • Shutter speed untuk membekukan gerakan. Gunakan shutter speed setinggi mungkin yang bisa dicapai untuk membekukan gerakan. Semakin cepat obyek bergerak yang ingin kita bekukan dalam foto, akan semakin cepat shutter speed yang dibutuhkan. Untuk membekukan gerakan burung yang terbang misalnya, gunakan mode Shutter Priority dan set shutter speed di angka 1/1000 detik (idealnya ISO diset ke opsi auto) supaya hasilnya tajam. Kalau anda perhatikan, fotografer olahraga sangat mengidolakan mode S/Tv ini.
  • Blur yang disengaja – shutter speed untuk menunjukkan efek gerakan. Ketika memotret benda bergerak, kita bisa secara sengaja melambatkan shutter speed kita untuk menunjukkan efek pergerakan. Pastikan anda mengikutkan minimal satu obyek diam sebagai jangkar foto tersebut. Coba perhatikan foto dibawah:


Sumber : belajarfotografi.com

Posted By Dhietcorner8:43:00 PM

Memahami Pengertian Aperture dan Depth Of Field dalam Fotografi


Definisi aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita mengambil foto.
Saat kita memencet tombol shutter, lubang di depan sensor kamera kita akan membuka, nah setting aperture-lah yang menentukan seberapa besar lubang ini terbuka. Semakin besar lubang terbuka, makin banyak jumlah cahaya yang akan masuk terbaca oleh sensor.
Aperture atau bukaan dinyatakan dalam satuan f-stop. Sering kita membaca istilah bukaan/aperture 5.6, dalam bahasa fotografi yang lebih resmi bisa dinyatakan sebagai f/5.6. Seperti diungkap diatas, fungsi utama aperture adalah sebagai pengendali seberapa besar lubang didepan sensor terbuka. Semakin kecil angka f-stop berarti semakin besar lubang ini terbuka (dan semakin banyak volume cahaya yang masuk) serta sebaliknya, semakin besar angka f-stop semakin kecil lubang terbuka.
apertureJadi dalam kenyataannya, setting aperture f/2.8 berarti bukaan yang jauh lebih besar dibandingkaan setting f/22 misalnya (anda akan sering menemukan istilah fully open jika mendengar obrolan fotografer). Jadi bukaan lebar berarti makin kecil angka f-nya dan bukaan sempit berarti makin besar angka f-nya.
Depth of Field
Depth of field – DOF, adalah ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto. Depth of Field (DOF) yang lebar berarti sebagian besar obyek foto (dari obyek terdekat dari kamera sampai obyek terjauh) akan terlihat tajam dan fokus. Sementara DOF yang sempit (shallow) berarti hanya bagian obyek pada titik tertentu saja yang tajam sementara sisanya akan blur/ tidak fokus.
PICT0235_mdUntuk mendapatkan DOF yang lebar gunakan setting aperture yang kecil, misalkan f-22 (makin kecil aperture makin luas jarak fokus) – lihat contoh foto diatas. Sementara untuk mendapat DOF yang sempit, gunakan aperture sebesar mungkin, misal f/2.8 – lihat contoh foto dibawah.
PICT0236_mdKonsep Depth of Field ini akan banyak berguna terutama dalam fotografi portrait dan fotografi makro, namun sebenarnya semua spesialisasi akan membutuhkannya.

Posted By Dhietcorner8:37:00 PM

5 Settingan Yang Harus Diperiksa Sebelum Mulai Memotret


BelajarFotografi | Pernah tidak mengalami kejadian seperti ini?
  • Anda pulang dari acara memotret dan baru menyadari bahwa tadi di sepanjang pemotretan anda menggunakan ISO 1200, padahal acaranya dilaksanakan di siang bolong saat ISO 100 saja cukup
  • Anda baru menyadari bahwa anda menggunakan settingan white balance untuk mendung, padahal dari awal acaranya dilakukan diruangan dengan penerangan lampu neon
Kesalahan mendasar seperti ini membuat kita harus bersusah payah melakukan koreksi pada foto, kalau satu dua sih tidak masalah, kalau ratusan foto?. Okelah, mungkin dengan bantuan software kita bisa melakukan koreksi dengan relatif cepat, tapi bukankah lebih enak kalau kesalahan seperti ini bisa dihindari sejak awal.
Ada 5 hal mendasar yang harus selalu kita periksa sebelum jari kita memencet tombol shutter pertama kali. Silahkan:

1. Periksa Settingan White Balance Anda

Settingan White Balance
Gunakan settingan white balance yang sesuai dengan kondisi, atau kalau anda percaya dengan kamera, set white balance di posisi auto. Baca lebih jauh tentang white balance.

2. Hidupkan Highlight Warning Kamera

Highlight Warning
Tips ini ampuh untuk menghindari foto yang overexposure. Highlight warning adalah penanda yang muncul di layar LCD kamera saat ada bagian foto yang terbakar alias overexposed.

3. Periksa Setting ISO

Settingan ISO
Settingan ISO menentukan seberapa peka sensor kamera kita terhadap cahaya, makin tinggi angkanya semakin peka. Kalau tadi malam anda memotret pesta ulang tahun teman anda di restoran, pastinya ISO yang digunakan akan berbeda dengan setting ISO saat akan digunakan untuk memotret acara gerak jalan dikantor.
Baca lebih jauh mengenai ISO disini.

4. Periksa Setting Ukuran dan Format Foto

Ukuran foto
Memotret ribuan foto sekaligus, seperti misalnya saat anda hunting di kebun binatang, tentunya membutuhkan pengaturan ukuran foto yang berbeda dibandingkan memotret keluarga di studio misalnya, apalagi jika kartu memori yang anda miliki kapasitasnya berbeda.
Format foto, apakah harus memilih JPG atau RAW juga wajib dipertimbangkan sebelum sesi foto anda dimulai.

5. Periksa Settingan Mode Ekspposur Kamera

Setting mode eksposure
Dalam kamera SLR atau pocket, biasanya tersedia beberapa pilihan untuk mode eksposur yang anda pilih: Manual-Aperture Priority-Shutter Priority-Mode Program-dan beberapa preset bawaan kamera. Pastikan anda sudah mengetahui mode mana yang akan anda pilih.

Mengenai mode eksposur dan beberapa preset, silahkan baca lebih jauh disini.

Lakukan 5 persiapan diatas, maka acara hunting, sesi memotret maupun iseng-iseng memotret acara di RT anda akan lebih lancar dan anda juga akan terlihat lebih profesional.

Posted By Dhietcorner8:22:00 PM